Biarkan Hujan Mengobati

Manusia cenderung mencari keseimbangan dalam hidup. Tubuh dehidrasi maka butuh minum, tubuh merasa lelah maka butuh tidur, begitu juga ketika merasa lapar manusia membutuhkan makanan. Mencari keseimbangan adalah pemulihan terhadap tubuh. Sejatinya pemulihan tidak hanya berbicara mengenai keluhan-keluhan fisik seperti haus, mengantuk dan lapar, melainkan pemulihan terhadap jiwa. Jiwa sendiri meliputi mental, energi, pikiran dan perasaan seseorang.

Disadari atau tidak, rutinitas sehari-hari memberi dampak yang lebih besar kepada jiwa dibandingkan terhadap fisik. Kerjaan di kantor yang begitu banyak dan melelahkan, jalanan yang macet, tuntutan terhadap diri sendiri yang tidak ada habisnya, skripsi atau kuliah yang berhenti di tengah jalan, semua itu memberikan dampak yang melelahkan terhadap jiwa. Tidur seharian akan memulihkan kekuatan fisik, namun ketika kembali ke rutinitas sehari-hari jiwa belum tentu pulih. Misalnya berangkat ke kantor dengan bersemangat, jalan sekitar 10 menit kendaraan sudah terjebak macet, sampai di kantor kerjaan sudah menunggu, jika salah atau terlambat akan mendapatkan sanksi, dan setelah jam pulang kantor akan kembali berhadapan dengan macetnya jalanan ibu kota. Rutinitas tersebut diulang setidaknya lima hari dalam seminggu. Sudah pasti jenuh, stres, dan cenderung menguras emosi.

Perasaan yang mengganggu jiwa seperti jenuh dan stres dapat diobati dengan relaksasi atau berlibur. Cara paling sederhana, mudah dan murah untuk merelaksasi jiwa adalah bersyukur atas air hujan yang turun. Air hujan memang memiliki dampak positif dan negatif untuk lingkungan. Misalnya air hujan dapat ditampung untuk air cadangan di musim kemarau, tetapi juga dapat merusak aspal jalanan jika curah hujannya terlalu tinggi. Namun kali ini yang dibahas adalah efek air hujan terhadap manusianya. Karena kota adalah manusianya. Bagaimana hujan dapat mengobati jiwa?

biar hujan 02                                                           (diambil oleh William N)

Kita semua pasti pernah mengalami situasi terjebak hujan yakni ketika rutinitas terganggu karena hujan turun. Telat masuk kuliah, pakaian kebasahan atau bahkan sakit karena hujan. Hal pertama yang terlintas di kepala pasti menyalahkan hujan. Namun lama kelamaan kita akan mulai menikmati tetesan – tetesan air hujan tersebut. Tak jarang dari kita yang menyukai bau dan aroma ketika hujan bersentuhan dengan tanah atau disebut petrichor. Seperti dilansir Wikipedia, bau tersebut berasal dari tumbuhan yang mengeluarkan minyak saat kemarau, lalu minyak tersebut diserap oleh tanah dan batuan. Ketika hujan turun dan mengenai tanah, minyak tersebut akan dilepaskan ke udara bersama geosmin, yakni produk samping metabolisme Actinomycetes. Perpaduan bau yang timbul akan menimbulkan suasana yang tenang dan dapat merelaksasi pikiran kita. Bau hujan tersebut dapat dilengkapi dengan secangkir kopi, teh ataupun tidur. Efeknya terhadap pemulihan jiwa dan fisik menjadi lebih baik.

biar hujan 03                                                          (diambil oleh William N)

Tetesan air hujan tersebut juga menjadi filosofi lahirnya salah satu jenis yoga atau meditasi yakni Raindrops Technique Yoga. Teknik ini dikenalkan oleh Dr. Gary Young dan kerabatnya dengan meneteskan sembilan jenis minyak esensial berbeda yang dapat meningkatkan sistem imun pada tubuh. Jadi, minyak tersebut diteteskan dari ketinggian kurang lebih 15 cm ke tulang punggung dan bagian belakang kepala. Lalu minyak tersebut dibiarkan mengalir serta dilakukan pemijatan lembut. Dr Young meyakini terdapat senyawa – senyawa toksik yang menempel di kulit manusia dan dapat memberikan gangguan kesehatan pada tubuh. Minyak esensial tersebut dipercaya dapat menghilangkan atau meredam efek dari senyawa toksik tersebut dan memberikan sensasi nyaman bagi pasiennya.
Jika tidak cukup dengan menikmati bau hujan ataupun yoga, tak apa jika sekali – sekali kita menikmati air hujan seperti anak kecil, yakni main “hujan-hujanan”. Kandungan air hujan 99 % berupa air (H20) dan sisanya tergantung situasi atmosfer di daerah tersebut. Selama 20 – 30 menit pertama air hujan masih membawa partikel – partikel debu, namun setelahnya cukup aman untuk diajak bermain.

Di tengah suka duka dan kepenatan ibu kota Jakarta yang segala obatnya semakin mahal, biarkan hujan mengobati. Nikmati saja.
Jakarta, 10 Maret 2017

penulis : Arya Dharmaputra

Fakultas Teknobiologi UAJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *