Air Hujan Yang Gratis

Menjelang akhir tahun sampai awal tahun yang baru, beberapa kota di Indonesia sering terlihat basah karena hujan yang terus turun. Di kota-kota besar seperti di Jakarta nampaknya hujan adalah hal yang harus diwaspadai karena hujan menimbulkam musibah seperti banjir atau longsor, tanpa mengandung manfaat lain selain membersihkan tanaman di pinggir kota yang penuh dengan debu kendaraan.

Melihat kondisi di beberapa kota besar, air bersih menjadi hal berharga yang diperjualbelikan, padahal hujan seharusnya bisa dipakai secara cuma-cuma dan kehadiran hujan sendiri seharusnya disyukuri. Beberapa negara seperti di Somalia mengalami kekeringan dan akibatnya sungguh mengerikan, banyak wabah penyakit, kurangnya sumber makanan yang menyebabkan banyak kematian pada hewan maupun manusia. Bayangkan jika keadaan ditukar, saya yakin kita akan sangat merindukan rintik air yang jatuh dari atas langit.

Teringat beberapa tahun lalu, saya mengikuti sebuah pendidikan di Gunung Honje, Ujung Kulon. Perjalanan mendaki yang saya lakukan sangat melelahkan dan rasa dahaga yang muncul sangat tidak tertahankan. Mengingat perjalanan masih ada beberapa hari, saya harus bertahan dengan rasa haus karena ketersediaan air yang terbatas. Betapa bahagianya saya ketika hujan turun dan menjadi penyelamat dan pelepas dahaga yang sungguh menyegarkan. Ketika rintik datang, saya langsung membuka topi saya, mendangak keatas dan membuka mulut saya. Membiarkan tetesan itu jatuh masuk ke tenggorokan saya yang kering. Saya pikir saya tidak akan pernah sadar akan betapa berharganya air hujan jika saya tidak pernah mengalami rasa haus tersebut.

Hal yang sama terjadi ketika saya melakukan pendidikan di kaki Gunung Salak, air bersih yang saya bawa hanya cukup untuk minum dan masak, setelah beberapa hari tidak menyiramkan badan saya dengan air, dengan gatal di kepala dan bau keringat, akhirnya hujan turun. Air hujan yang saya dapatkan tak ingin saya sia-siakan, segera saya tampung dalam sebuah wadah dan saya gunakan untuk membilas badan dan rambut saya. Pengalaman ini membuka pikiran saya bahwa memang air hujan adalah sumber utama air bagi manusia, ketika uang tidak memiliki kontrol apapun.

Mungkin beberapa orang yang memiliki pengalaman mirip seperti saya akan merasakan hal yang sama akan turunnya hujan, lalu mengapa sebagian orang ada yang mengeluh dengan turunnya hujan? apa karena banjir? hujan asam? Air kotor? Jika demikian, mari kita bahas satu-persatu.

Banjir dipicu karena adanya curah hujan yang deras, namun tak terlepas dari hal tersebut adalah karena keadaan lingkungan yang tidak mendukung seperti sampah plastik yang terkubur dan tidak terurai, selokan yang terhambat karena tumpukan sampah. Hal-hal tersebut disebabkan oleh kegiatan manusia yang merusak alam, seperti membuang sampah sembarangan dan menggunakan plastik terlalu banyak. Banjir bukan disebabkan karena turunnya air hujan, tetapi karena sampah yang menumpuk sehingga air tidak dapat terserap dengan baik.

Hujan asam adalah hujan yang mengandung zat-zat berbahaya seperti sulfur, nitrogen, dan karbondikoksida yang menyebabkan air hujan memiliki pH rendah. Hujan asam ini berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan termasuk ekosistem perairan. Hujan asam ini disebabkan karena berbagai hal, yaitu polusi kendaraan, polusi yang disebabkan dari industri ataupun pembangkit listrik. Jika air hujan dianggap kotor, iya memang kotor, karena hasil dari kegiatan-kegiatan manusia yang merusak alam tersebut. Air kotor dan hujan asam disebabkan bukan karena hujan yang turun, tetapi manusia yang mencemari hujan itu sendiri.

Kerusakan-kerusakan ini bukan disebabkan karena air hujan itu sendiri, tetapi karena kegiatan manusia sendiri yang merusak lingkungan, sehingga manfaat dari hujan tidak dapat dirasakan dengan baik. Air hujan adalah sumber air utama bagi manusia dan sangat bermanfaat yaitu untuk membersihkan udara dari polusi, pelestarian lingkungan hidup, perikanan, pertanian, dan lain sebagainya. Air hujan juga dapat digunakan dalam keperluan sehari-hari seperti mencuci kendaraan, alat masak, membersihkan badan, terutama ketika tidak tersedianya air bersih.

Hanya karena mampu membeli air bersih, bukan berarti bisa seenaknya pada lingkungan. Masih banyak orang yang membutuhkan air bersih namun tidak mampu membelinya. Untuk itu, tetaplah menjaga air hujan yang bersih dengan tidak merusak lingkungan atau menimbulkan polusi yang mampu menyebabkan hujan asam. Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, menggunakan sepeda atau menggunakan kendaraan umum, tidak membuang sampah sembarangan dan kurangi penggunaan plastik.

Penting bagi kita untuk mensyukuri dan menjaga kebersihan lingkungan agar dapat merasakan dampak yang positif dari air hujan itu sendiri. Bersyukurlah karena masih diberikan air hujan. Iwan Fals pernah berkata “Ketika pohon terakhir sudah kita tebang, ketika sungai terakhir sudah tercemar, dan ketika ikan yang terakhir sudah ditangkap. Pada saat itu kita baru sadar bahwa uang tidak bisa kita makan”. Begitu juga dengan hujan, ketika kita mencemari lingkungan yang berdampak pada tidak dapat dimanfaatkannnya air hujan, atau hujan menyebarkan zat berbahaya pada seluruh ekosistem sehingga tak bisa lagi mendapatkan air bersih, baru kita sadar kita tidak bisa menggunakan uang lagi untuk membeli air bersih, tetapi dengan perubahan.

Penulis : Chatarina Shelda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *